Monday, September 12, 2011

Mendaki Tanjakan Maut Baduy

Sebenarnya mendaki bukanlah olah raga favorit saya. Berjalan keluar masuk pedalaman dan hutan juga bukan pilihan utama saya untuk menghabiskan liburan. Namun, berkat gabung dalam komunitas Couchsurfing, berbagai alternatif menghabiskan waktu luang pun menjadi lebih bervariasi, termasuk napak tilas ke Baduy.

Seperti yang sudah diajarkan sejak SD, Baduy dibagi menjadi dua: Baduy Dalam dan Baduy Luar. Baduy Dalam lebih tertutup. Lokasinya pun lebih masuk ke pedalaman. Foto tidak diperbolehkan jika memasuki Baduy Dalam, begitu juga pengunjung asing. Berhubung di dalam kelompok saya ada tiga teman dari Perancis dan Jerman, Baduy Dalam pun tidak menjadi tujuan.






Saya agak “bersyukur” kelompok jalan ini tidak ke Baduy Dalam. Medan untuk menuju tiga desa di bagian paling pinggir Baduy Luar saja sukses membuat saya sering kehilangan napas dan seluruh otot di tubuh terasa ditarik kaku. Buat pelancong seperti saya yang terakhir hiking ketika SMA dan tidak pernah berolahraga, perjalanan keliling Baduy Luar itu ibarat mengulangi masa perploncoan kuliah. Jadi, benar-benar dibutuhkan stamina fit dan pemanasan kelenturan otot kaki yang cukup panjang. Jika Anda tidak terlatih sebelumnya, siap-siaplah menikmati badan kaku selama tiga hari.

Perjalanan menuju Ciboleger, desa terakhir yang dapat dijangkau mobil, mulai sekitar tengah malam. Di Ciboleger, kami langsung disambut patung keluarga petani berwarna putih. Sambil menunggu pemandu, Pak Erwin, seorang penduduk Baduy Luar, kami mengganjal perut dengan kopi dan pisang goreng di beberapa warung kecil di situ.



Tujuan pertama kami adalah jembatan akar. Sesuai dengan namanya, jembatan ini terbentuk dari rangkaian akar dua pohon besar yang berada kedua sisi Sungai Cisemeut. Posisi jembatan ini cukup tinggi, sekitar sepuluh meter dari tanah dan terbentang sekitar dua puluh lima meter. Yang mengagumkan adalah jembatan ini terbentuk tanpa bantuan paku, semen atau besi. Benar-benar hanya jalinan kayu dan simpul sabut kelapa atau ijuk kayu.

Berhubung masih pagi, daun-daun pun masih berembun sehingga jalan yang kami tempuh licin. Perjalanan harus super hati-hati karena beberapa titik berada di pinggir jurang. Kepleset sedikit akan sangat berbahaya. Belum apa-apa, kami sudah olahraga jantung juga karena deg-degan tingkat tinggi.

Hal yang harus diingat selama berjalan bersama pemandu penduduk asli adalah definisi jarak yang berbeda. Ketika akan berangkat menuju jembatan akar, Pak Erwin mengatakan kalau jarak ke jembatan akar ini pendek. Pulang balik hanya sekitar dua jam. Ternyata, dua jam itu bagi rombongan kami hanya cukup untuk perjalanan menuju jembatan. Perlu dua jam lagi untuk kembali ke lokasi asal.



Walau perjalanan perlu sedikit perjuangan, banyak hal yang bisa dinikmati selama mendaki dan menuruni bukit dan hutan ini. Gemericik air pancuran, suara orang menumbuk padi di saung, pemandangan sawah huma (ladang padi dengan sistem tanpa pengairan), pegunungan dan hutan yang menakjubkan. Sesekali juga kami bisa melihat beberapa binatang kecil berkeliaran. Antara lain, berbagai model laba-laba, kalajengking dan kaki seribu terbesar yang pernah saya lihat.



Setelah makan siang di rumah Pak Erwin yang disiapkan oleh istrinya, perjalanan pun dilanjutkan menuju Desa Gajeboh Tiga tempat saya akan menginap. Medan menuju Desa Gajeboh Tiga ini lebih dahsyat lagi. Selama hampir tiga jam, trek jalan penuh dengan tanjakan dan turunan curam. Kelok-keloknya mengalahkan Tembok Besar Cina di Beijing.

Ketika tiba di rumah penduduk setempat, mereka langsung menyambut ramah rombongan kami. Mereka juga menawarkan berbagai buah hasil tanaman seperti pisang dan durian. Saya takjub melihat betapa besar dan berkelimpahan hasil tanaman mereka. Berhubung belum lewat jam enam sore, ada waktu cukup untuk merebahkan diri sejenak, mandi dan menikmati indahnya sungai melintas desa ini sambil melahap durian. Nikmat!






Sekitar jam sembilan malam, karena tak ada listrik, suasana desa pun sudah tenang. Semua terlelap. Ini artinya penduduk bangun pagi lebih awal. Sekitar jam empat pagi, kesibukan tiap rumah pun mulai terdengar.

Para wanita biasanya bersiap berladang, menumbuk padi atau menenun kain, sedangkan para lelakinya langsung menuju sungai. Kebanyakan mereka mengatur balok-balok kayu yang tampaknya akan dijual di kota. Sementara anak-anak tinggal di rumah sendiri, mengisi waktu luang berkumpul dan bermain bersama. Karena menjaga tradisi, anak-anak ini memang tidak bersekolah.



Perjalanan mengelilingi Desa Gajeboh dilanjutkan dengan titik tujuan pulang. Medan yang dilewati tidak terlalu berat, walau tetap menanjak karena akan melihat Desa Gajeboh dari atas. Begitu tiba di titik teratas, pemandangannya lebih menakjubkan. Terlihat sekali betapa rumah-rumah orang Baduy hampir tertutup oleh alam. Betapa mereka sangat menghargai alam sekeliling mereka. Dan, terus terang, pemandangan seperti ini terasa damai sekali.

 
 
 
(Sumber : Syanne Susita)

No comments:

Post a Comment